• Categories

  • Archives

  • I B I T A

  • Follow me on Twitter

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 1,096 other followers

Faktor Risiko Stroke Usia Muda

 

Mengapa masih muda  kok terkena stroke ? Pemahaman  tentang  berbagai faktor risiko lain  yang  spesifik pada  usia  muda  mutlak  diperlukan.  Telaah  pustaka  ini  akan membahas secara mendalam berbagai faktor risiko stroke pada usia muda  dan prognosis stroke pada usia muda.

 

Pembahasan terutama dilakukan pada berbagai hal‐hal berikut:

  1. genetik dan stroke,
  2. migren dan stroke,
  3. kontrasepsi oral dan stroke,
  4. malformasi arteriovenosa,
  5. diskarsia darah dan stroke,
  6. penyakit jantung kongenital dan stroke,
  7. alkohol dan penyalahgunaan obat.

Peran faktor genetik pada stroke

Riwayat stroke pada  orang tua (baik  ayah maupun ibu) akan meningkatkan risiko stroke. Peningkatan risiko stroke ini dapat diperantarai oleh beberapa mekanisme, yaitu:

  1. penurunan genetis faktor risiko stroke,
  2. penurunan kepekaan terhadap faktor risiko stroke,
  3. pengaruh keluarga pada pola hidup dan paparan lingkungan,
  4. interaksi antara factor genetik dan lingkungan.

Penelitian pada anak kembar memperlihatkan peran faktor genetic pada risiko stroke. Beberapa kelainan genetik yang jarang dihubungkan dengan stroke. Suatu syndrome kelainan genetik yaitu Cerebral Autosomal Dominant Arteriopathy with Subcortical Infarct and Leukoencephalopathy (CADASIL)          ditandai oleh infark subkortikal, demensia, dan nyeri kepala migren. Sindroma Marfan, dan neurofibromatosis tipe I dan tipe II juga dihubungkan dengan peningkatan risiko stroke.

Migren dan stroke

Migren merupakan tipe nyeri kepala yang umum pada usia dewasa muda, dengan prevalensi sebesar 4% sebelum masa pubertas,  dan  sebesar 25% pada wanita di  usia 30 tahun. Beberapa penelitian epidemiologi terdahulu menunjukkan peningatan risiko stroke pada penderita migren. Mekanisme yang mendasari kejadian stroke pada penderita migren adalah kondisi hiperkoagubilitas dan pengurangan aliran darah serebral pada saat fase aura. Etminan, dkk (2005) melakukan kajian sistematis dan  meta  analisis terhadap  14 penelitian (11  penelitian  kasus kontrol dan  3  penelitian kohort)  terdahulu.  Hasil kajian sistematis menunjukkan bahwa risiko stroke meningkat pada penderita migren  (RR=2,16,

95% CI 1,89‐2,48).   Peningkatan risiko ini secara konsisten teramati pada pasien migren dengan aura  (RR=2,27, 95% CI=1,61‐3,19),  dan migren tanpa aura (RR=1,83, 95% CI 1,06‐3,05), dan terlebih pada penderita migren dengan konsumsi kontrasepsi oral (RR=8,72, 95% CI=5,05‐15,05).

Kontrasepsi oral dan stroke

Peningkatan risiko stroke  akibat penggunaan  kontrasepsi oral  terutama  teramati pada  preparat  yang  mengandung estradiol  tinggi  (≥  50  μg).  Hasil   berbagai  penelitian terdahulu tentang hubungan antara pemakaian  kontrasepsi oral dan  stroke masih sangat kontroversial. Analisis stratifikasi  menunjukkan bahwa  peningkatan  risiko  stroke  pada pemakai kontrasepsi oral  terutama  teramati  pada  wanita  >  35  tahun,  perokok sigaret, hipertensi,    diabetes,    menderita    migren,    dan    wanita    dengan    riwayat    penyakit thromboembolik. Kajian sistematis  Schwartz,  dkk  (1998)  pada  2  penelitian  kasus  kontrol  yang mengukur risiko stroke  pada  wanita muda (18‐44 tahun)  yang  menggunakan kontrasepsi hormonal.  Data diperoleh dari hasil wawancara 177 pasien stroke iskemik, dan 198 pasien stroke hemoragik. Sebagai kontrol dipilih 1191 subyek non stroke. Kajian sistematis tersebut menyimpulkan bahwa  tidak  ada  bukti  yang  kuat  bahwa  penggunaan  kontrasepsi  oral hormonal meningkatkan risiko stroke. Penelitian lebih lanjut  masih diperlukan, terutama pengukuran risiko yang lebih  spesifik pada  kelompok usia  tertentu,  merokok, obesitas, hipertensi, atau riwayat migren.

Malformasi arteriovenosa

Malformasi arteriovenosa  adalah  kelainan  kongenital,  dimana  arteri   dan  vena langsung dihubungkan oleh satu atau lebih fistula. Hubungan langsung ini tanpa perantaraan sistem  kapiler.  Lapisan arteri   tidak  memiliki  cukup lapisan  muskuler.  Vena  seringkali mengalami dilatasi akibat dari tekanan aliran darah yang tinggi melalui fistula. Malformasi arteriovenosa merupakan sumber stroke perdarahan pada 2% kasus stroke perdarahan, dan pada umumnya pada usia muda (Schumacher, 2006). Kajian sistematis  Al  Shahi  dan  Warlow  (2001) memperlihatkan  bahwa  angka insidensi AVM kurang lebih 1 per 100000 per tahun, dengan angka prevalensi sebesar 18 per 100000. Malformasi arteriovenosa bertanggungjawab pada 1%‐2% kasus stroke, 3% stroke pada usia muda, dan 9% kasus perdarahan subarachnoid.

Malformasi arteriovenosa menyebabkan gangguan neurologi dengan 3 mekanisme:

  1. perdarahan  yang  dapat  masuk ke  ruang  subarachnoid, ruang  intra  ventrikuler, dan parenkim otak,
  2. kejang pada 15%‐40% pasien dengan AVM, dan
  3. defisit neurologi yang

progresif pada 6‐12% pasien, melalui mekanisme semakin membesarnya ukuran AVM atau

fenomena kekurangan aliran darah akibat aliran darah langsung dari arteri ke vena (stealing phenomenon) (Schumacher, 2006). 

Tatalaksana medis untuk malformasi arteriovenosa bersifat individual, tergantung pada demografik, riwayat penyakit, dan  hasil angiografi. Terapi invasif untuk malformasi arteriovenosa dapat  meliputi embolisasi endovaskuler, reseksi bedah,  dan  radiasi fokal. Terapi invasif dapat diberikan secara tunggal atau kombinasi (Schumacher, 2006).

Diskrasia darah dan stroke

Abnormalitas   hematologi    merupakan    salah    satu    faktor    risiko   penyakit serebrovaskuler. Gangguan  koagulasi merupakan faktor  predisposisi terjadi  thrombosis. Gangguan hemostatik yang sering dihubungkan dengan stroke  adalah  gangguan faktor V Leiden,   defisiensi   protein   C   dan   S   dan    antithrombin   III,   anemia   sickle   cell, hiperhomosisteinemia, dan sindroma antiphospholipid antibodi (Vaishnav, 2006). Diskrasia darah atau hiperkoagulabilitas sebagai penyebab stroke harus dicurigai ada kondisi‐kondisi berikut ini: (1) usia < 50 tahun, tanpa penyebab stroke yang jelas, (2) riwayat stroke berulang yang tidak dapat dijelaskan, (3) riwayat thrombosis vena sebelumnya, (4)

riwayat thrombosis pada keluarga, dan (5) abnormalitas hasil tes koagulasi. Sindroma anti phospholipid harus  dicurigai pada  pasien  dengan  riwayat  abortus  berulang,  demensia, neuropati optik dan sindroma lupus (Vaishnav, 2006). Tatalaksana diskrasia darah sebagai penyebab stroke masih kontroversial. Manfaat dan  risiko terapi  harus  dipertimbangkan benar.  Anti koagulan merupakan pilihan terapiTindakan profilaksis harus diberikan pada saat‐saat risiko tinggi, misalnya: kehamilan, immobilisasi, atau masa post operasi (Vaishnav, 2006).

Penyakit jantung kongenital dan stroke

Atrial fibrilasi merupakan salah satu faktor risiko stroke kardioembolik yang utama. Berbagai   kondisi  penyakit   jantung   lain   yang   simptomatik   maupun   asimptomatik dihubungkan pula  dengan  peningkatan risiko stroke.  Kelainan jantung  diperkirakan ikut bertanggungjawab pada kurang lebih 40% kasus kriptogenik stroke pada usia muda. Kelainan jantung bawaan yang terkait dengan peningkatan risiko stroke adalah Patent Foramen Ovale, Atrial Septal Defect, dan Atrial Septal Aneurisma).

Penyalahgunaan obat, konsumsi alkohol, dan stroke

Penyalahgunaan obat merupakan masalah kesehatan yang besar di dunia. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa  penyalahgunaan obat,  termasuk  kokain, amfetamin, dan heroin  berhubungan  dengan  peningkatan, risiko stroke.  Berbagai  obat  tersebut   dapat mengganggu aliran darah,  menginduksi vaskulitis   menyebabkan embolisasi, endokarditis infektif, mengganggu agregasi platelet, dan meningkatkan viskositas darah (Goldstein, dkk, 2006).

Penelitian epidemiologi terdahulu memperlihatkan hubungan kurva Jshape untuk konsumsi alkohol dan faktor risiko stroke. Hal ini berarti bahwa  konsumsi alkohol ringan sampai sedang memiliki efek protektif, namun konsumsi berlebih meningkatkan risiko stroke. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa konsumsi alkohol dalam dosis kecil atau sedang akan  meningkatkan  kolesterol  HDL, mengurangi  agregasi   platelet,   dan   menurunkan konsentrasi  fibrinogen  plasma.  Konsumsi alkohol  berlebih  akan  meningkatkan  risiko hipertensi, hiperkoagulabilitas, mengurangi aliran darah otak, dan meningkatkan risiko atrial fibrilasi (Goldstein, dkk, 2006). Memahami faktor risiko stroke  akan membantu  upaya pencegahan yang  efektif. Apakah anda sudah pernah mengukur tekanan darah anda ? Pernahkah anda memeriksakan diri  ke  laboratorium?  Bila belum,  mungkin sekaranglah saatnya.  Lebih baik mencegah daripada mengobati.

www.strokebethesda.com

 

2 Responses

  1. apa penderita stroke bisa kembali seperti semula? baik secara fisik maupun mental. terima kasih.

    Like

    • Tergantung dari berat ringannya stroke, tergantung lesi/kerusakan otak dibagian mana? Dan tergantung Penanganan terapi yang diberikan, sesuai atau tidak

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: